BRMP Bali Hadiri Pertemuan Subak di Gianyar, Bahas Pertanian Organik
Gianyar, 15 Juli 2025 – Badan Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Bali menghadiri pertemuan subak yang membahas pertanian organik yang diselenggarakan oleh Dinas Pertanian Kabupaten Gianyar. Selain BRMP Bali hadir pada pertemuan tersebut, Kabid TPH Distan Kabupaten Gianyar, Plt. Kabid Penyuluhan beserta beberapa Penyuluh Pertanian Kabupaten Gianyar. Pengurus dan anggota Subak Timbul, Desa Pupuan Kecamatan Tegallalang. BRMP Bali diwakili oleh I Made Sukadana, S.P. M.P, (Penyuluh), Agung Prijanto, S.P. M.Agb., (Penyuluh) beserta tim lainnya. ,
Menurut Pekaseh Subak Timbul, subak mereka memiliki keunikan yang membedakannya dengan subak yang lain. Dengan luas area pertanian 65,54 ha, beranggotakan sebanyak 117 orang, hampir 90 % petaninya tidak menggunakan pupuk kimia. "Meskipun belum dapat dikatakan organik, hal ini mencuri perhatian dari Dosen Universitas Waseda, Tokyo melakukan penelitian di subak Timbul" ungkapnya.
Kabid TPH, Distan Gianyar (Ni Made Yuliani Putri, S.P, M.Agb.) mengatakan ini merupakan suatu kesempatan baik untuk kemajuan pertanian di Subak Timbul yang mana harapannya Subak Timbul dapat menghasilkan beras organik. "Dalam mencapai tujuan tersebut maka diadakan sekolah lapang untuk mempersiapkan pengetahuan dan kemampuan petani dalam melakukan pertanian organik" ujarnya.
"Beras Organik tentu memiliki nilai tambah sehingga harganya menjadi lebih mahal dibanding dengan beras biasa, meskipun mahal petani tidak perlu khawatir karena Pemerintah Kabupaten Gianyar akan menggandeng banyak pihak untuk terlibat dan pihak Universitas Waseda juga berkomitmen untuk membantu pascapanen dan pemasaran beras organik yang nanti dihasilkan oleh Subak Timbul.
Agung Prijanto S.P, M.Agb., menyampaikan bahwa pertanian organik tidak hanya sebatas pertanian tanpa penggunaan pupuk kimia, namun seluruh proses dan komponen pendukungnya seperti air dan tanah tidak mengandung bahan kimia. Untuk itu menurutnya dalam mencapai pertanian organik dibutuhkan waktu beberapa tahun serta keterlibatan pihak lain yang akan mengkaji semua komponen pertanian yang digunakan tidak mengandung bahan kimia dan kemudian akan diberikan label organik pada produknya. "Sebelum mencapai pertanian organik, petani dapat melakukan pertanian ramah lingkungan yang dalam prakteknya tetap menggunakan bahan kimia namun dalam jumlah kecil saja" jelasnya.
Dalam acara pertemuan tersebut BRMP Bali memberikan tambahan materi berupa praktik pembuatan pupuk organik padat (POP) dengan tetap mempertimbangkan kemudahan petani dalam memperoleh bahannya, meliputi daun pisang kering, daun pisang basah, batang pisang, kotoran hewan sapi, bekatul, dan EM4.
Sementara Plt. Kepala Bidang Penyuluhan, Distan Gianyar mengatakan bahwa sinergitas antar lembaga diperlukan untuk mempersiapkan Subak Timbul menjadi subak penghasil beras organik.
(Hiras & Tim)